teks

Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wacana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Mei 2012

Argumentasi Reformasi di masa sekarang


Proses Pembelajaran
            Berbicara masalah reformasi seolah mengingat kita akan peristiwa tahun 1998 dimana kepemimpinan orde baru dapat digulingkan oleh mahasiswa. Ketika itu kita seolah berjaya kerena telah berhasil menggulingkan rezim Suharto.  Dan dalam sekejap berganti dari masa orde baru menjadi masa reformasi. Namun, sebenarnya tidak sampai situ saja perjuangan yang harus dilakukan. Masih banyak sektor-sektor yang harus diperbaiki pada masa sekarang ini. Sektor pendidikan, ekonomi, energi, budaya dan masih banyak sektor-sektor lain yang menjadi PR besar buat kita semua.
            Jadi, untuk mewujudkan reformasi yang sebenarnya diperlukan proses pembelajaran secara terus menerus. Proses pembelajaran ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, bukan pula hanya dipikrkan oleh kalangan akademisi saja. Tapi alangkah lebih baik apabila semua elemen masyarakat dapat ikut serta didalamnya. Seperti contoh, kita dapat memulai dari hal yang kecil hingga ke hal yang besar, mulai dari diri sendiri hingga dilakukan secara bersama-sama dan mulai dari desa sendiri hingga meluas ke tingkat nasional. Hal ini penting dilakukan untuk refleksi bersama sebagai proses pembelajaran dengan tujuan untuk mewujudkan kemerdekaan yang sama-sama kita impikan.

Selasa, 17 Januari 2012

diskriminasi harga


DISKRIMINASI HARGA

            Diskriminasi harga adalah menaikkan laba dengan cara menjual barang yang sama dengan harga berbeda untuk konsumen yang berbeda atas dasar alasan yang tidak berkaitan dengan biaya. Diskriminasi harga terjadi saat produsen memberlakukan harga yang sama karena alasan yang tidak ada kaitannya dengan perbedaan biaya, tetapi tidak semua perbedaan harga mencerminkan diskriminasi harga.
            Tujuan utama pelaku usaha melakukan diskriminasi harga yaitu untuk  mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dan keuntungan yang lebih tinggi tersebut
diperoleh dengan cara merebut surplus konsumen. Surplus konsumen adalah selisih harga tertinggi yang bersedia dibayar konsumen dengan harga yang benar-benar dibayar oleh konsumen. Diskriminasi harga / price discrimination didasari adanya kenyataan bahwa konsumen sebenarnya bersedia untuk membayar lebih tinggi, maka perusahaan akan berusaha merebut surplus konsumen tersebut dengan cara melakukan diskriminasi harga
            Syarat-syarat terjadinya diskriminasi harga adalah sebagai berikut :
1.      Jika monopolis mampu memisah-misahkan pasar.
Apabila monopolis dapat memisah-misahkan pasar, maka para konsumen akan membeli di pasar yang memiliki harga rendah, yang lama kelamaan akan menaikkan harga dan menjualnya di pasar yang memiliki harga tinggi, yang selanjutnya akan menurunkan harga . Sehingga harga dalam kedua pasar tersebut menjadi sama.
2.      Elastisitas permintaan pada setiap tingkat harga harus berbeda di antara kedua pasar supaya diskriminasi harga tersebut menguntungkan.
           
            Jenis – jenis diskriminasi harga adalah sebagai berikut :
1.      Diskriminasi harga derajat 1
Diskriminasi harga derajat 1 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-beda untuk setiap konsumen berdasarkan reservation price (Willingness To Pay) masing-masing konsumen dibedakan pada kemampuan daya beli masing-masing konsumen. Contoh: seorang dokter memberlakukan tarif konsultasi yang berbeda-beda pada setiap pasiennya. Diskriminasi harga derajat 1 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada gambar 1.


Gambar 1. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 1

Pada gambar 1 menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat 1. Pada grafik tersebut terdapat hubungan antara P (harga) dan Q (output) yang dimisalkan harga terdapat P1, P2 dan P3 dan output terdapat Q1, Q2 dan Q3. Pada grafik terlihat apabila P tinggi maka Q rendah. Hal ini apabila dikaitkan pada kemampuan daya beli konsumen berarti apabila produsen menawarkan harga yang tinggi maka terdapat sedikit konsumen yang akan membeli produk tersebut. Dan begitu sebaliknya, apabila produsen menawarkan harga yang rendah maka terdapat banyak konsumen yang dapat membeli barang tersebut. Jadi, dalam hal ini perusahaan harus mengetahui kemampuan daya beli pada masing-masing konsumen.
Diskriminasi harga derajat 1 dapat merugikan konsumen karena terdapat surplus konsumen yang diterima oleh produsen, biaya yang harusnya diterima oleh konsumen namun menjadi milik konsumen. Diskriminasi harga derajat 1 juga disebut perfect price discrimination karena memperoleh surplus konsumen paling besar.
2.       Diskriminasi harga derajat 2
Diskriminasi harga derajat 2 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda-beda pada jumlah batch atau lot produk yang dijual. Diskriminasi harga ini dilakukan karena perusahaan tidak memiliki informasi mengenai reservation price konsumen. Contoh: perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian eceran, pembeli yang membeli mie instan 1 bungkus dan 1 kardus akan berbeda harganya. Diskriminasi harga derajat 2 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada gambar 2.

Gambar 2. Grafik Diskriminasi Harga derajat 2

Pada gambar 2 diatas menjelaskan tentang diskriminasi harga derajat 2. Pada grafik tersebut pelaku usaha menetapkan harga (P1, P2 dan P3) berdasarkan jumlah konsumsi.
Kebijakan ini dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen karena jumlah output bertambah dan harga jual semakin murah. Hal ini dikarenakan pelaku usaha menggunakan sistem perbedaan harga per unit pada pembelian grosir dan pembelian eceran. Harga eceran lebih tinggi dari pada harga per pak, sehingga konsumen lebih baik membeli barang langsung per pak daripada membeli barang eceran.
3.      Diskriminasi harga derajat 3
Diskriminasi harga derajat 3 dilakukan dengan cara menerapkan harga yang berbeda untuk setiap kelompok konsumen berdasarkan reservation price masing-masing kelompok konsumen. Diskriminasi harga derajat 3 dilakukan karena perusahaan tidak mengetahui reservation price masing-masing konsumen, tapi mengetahui reservation price kelompok konsumen. Kelompok konsumen dapat dibedakan atas lokasi, geografis, maupun karakteristik konsumen seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain-lain. Contoh : barang yang dijuala di pedesaan dan di perkotaan akan berbda harganya. Diskriminasi harga derajat 3 juga dijelaskan kedalam grafik yang tersaji pada gambar 3.

 
Gambar 3. Grafik Diskriminasi Harga Derajat 3
Pada gambar 3 diatas menjelaskan tentang grafik diskriminasi harga derajat 3. Diskriminasi harga ditetapkan berdasarkan perbedaan elastisitas harga. Permintaan yang lebih inelastis dikenakan harga yang lebih tinggi.

Minggu, 18 Desember 2011

teori cinta

A Triangular Theori of Love

Cinta adalah sesuatu keindahan yang dicipakan oleh Sang Pencipta kepada makhluknya. Pada dasarnya setiap makhlukNya memang diciptakan untuk berpasang-pasangan, laki-laki beerpasangan dengan perempuan, langit berpasangan dengan bumi, api berpasangan dengan air dan sebagainya.
Dalam teori triangle of love, ada 3 komponen:
1. Komponen intimacy
yaitu mengacu pada perasaan akan kedekatan hati seseorang (closeness), keterkaitan (connectedness), dan keterikatan (boundedness) dalam hubungan cinta (Sternberg & Grajek, 1984). Komponen intimacy terhadap seseorang yang dicintai antara lain:
Ø  Keinginan untuk menghadirkan kesejahteraan baginya
Ø  Saling menghargai
Ø  Saling memahami
Ø  Dapat untuk diajak bertukar pikiran
Ø  Mampu memberi dukungan secara emosional
Ø  Memiliki komunikasi yang akrab
2. Komponen passion
Komponen ini mengajarkan pada keromantisan, ketertarikan fisik, pemenuhan kebutuhan biologis, dan fenomena terkait dalam menjalin hubungan cinta.
3. Komponen commitment
Dalam jangka pendek hal ini berarti keputusan untuk mencintai seseorang dan dalam jangka panjang berarti komitmen untuk saling menjaga cinta masing-2 pasangan.



properti
komponen
intimacy
passion
commitment
stabilitas
cukup tinggi
rendah
cukup tinggi
kontrol kesadaran
cukup
rendah
tinggi
tipe kepentingan hubungan jangka pendek
cukup
tinggi
rendah
tipe kepentingan hubungan jangka panjang
tinggi
cukup
tinggi
keharmonisan dalam menjalin hubungan cinta
tinggi
rendah
cukup
keterlibatan psiko-fisiologi
cukup
tinggi
rendah
Kelemahan terhadap conscious awareness
cukup rendah
tinggi
cukup tinggi

Jenis-jenis cinta
v  Nonlove
Yaitu hubungan yang tidak memiliki/ tidak didasari ketiga komponen cinta yaitu intimacy, passion, decision/commitment.
v  Liking
Yaitu perasaan dan hubungan yang didasarkan pada rasa persahabatan. Seseorang merasakan adanya kedekatan, keterikatan, dan kehangatan terhadap yang lain tanpa adanya tujuan untuk saling mencintai dan memikirkan hubungan lebih lanjut ke jenjang perkawinan melainkan sekedar “rasa suka”.
v  Infatuated love
Yaitu perasaan cinta, rasa kekaguman terhadap seseorang pada pandangan pertama. Cinta ini biasanya muncul hanya sekejap tanpa dilandasi komitmen atau keputusan juga tidak adanya keakraban.
v  Empty love
Jenis cinta ini seseorang mencintai yang lain dan memiliki komitmen, akan tetapi tanpa dilandasi komponen intimacy. Cinta ini biasanya terdapat pada hubungan yang membosankan yang telah berjalan beberapa tahun dan keduanya merasa semakin hari tidak tertarik pada fisik maupun ikatan secara emosional.
v  Romantic love
Jenis cinta ini merupakan kombinasi antara komponen intimacy dan passion. Inti dari cinta ini yaitu adanya perasaan cinta yang dibumbui dengan unsur lain yaitu berupa ketertarikan fisik dan adanya kesamaan (similarities) antar keduanya.
v  Fatuous love
Merupakan cinta hasil dari kombinasi passion dan decision/commitment tetapi tanpa dilandasi adanya intimacy. Cinta ini biasanya terjadi sewaktu seseorang menghadiri suatu acara atau bertemu dengan seseorang yang baru dikenal. Setelah itu mereka berdua berkomitmen untuk menjalin hubunan, beberapa minggu kemudian tunangan, dan tidak lebih dari satu bulan memutuskan untuk menikah.
v  Consummate love
Yaitu cinta seseorang yang sepenuhnya/seutuhnya terhadap orang yang dicintainya berlandaskan ketiga komponen cinta (intimacy, passion, dan decision/ commitment)